Belajar Mengasihi dan Mengampuni




Sabtu kemarin tiba-tiba saya kembali teringat kepada seseorang yang pernah menyakiti saya. Kembali teringat akan semua yang pernah dikatakan dan dilakukannya kepada saya. Peristiwa itu bermula dari +/- 2 tahun yang lalu , dan kadang masih sering berlanjut hingga sekarang. 

Karena menurut saya ini sudah cukup mengganggu , maka saya cerita kepada kakak rohani saya yang saya anggap sudah lebih dewasa dalam menghadapi persoalan yang seperti ini. 

Memang tidak mudah rasanya berperang secara roh seperti ini, apalagi tidak didukung oleh lingkungan sekitar yang notabene seharusnya mereka berada di garda paling depan berperang bersama denganku.
Tapi yasudahlah , kalau kata kakak rohaniku ketika memang sudah dicoba berbagai cara tetapi tidak mempan juga maka memang sudah saatnya mengangkat tangan dan membiarkan tangan Tuhan yang mengajar dan menghajar. Biarkan kedaulatan Tuhan yang bekerja dalam kehidupan ku dan memampukanku untuk melewati badai ini.

Saya tau bahwa saya sedang merugikan diri saya sendiri karena masih belum bisa mengampuni. Namun di sisi lain , saya berusaha untuk berdoa agar Tuhan memampukan saya mengampuni , dan saya melepaskan berkat untuk seseorang tersebut. Hal ini bukan perkara mudah , tetapi tetap harus saya lakukan karena toh Tuhan telah terlebih dahulu mengampuni saya dan kita semua melalui pengorbananNya diatas kayu salib padahal jelas-jelas saya tidak layak untuk diampuni karena dosa-dosa saya yang terlalu banyak.

Tapi kemudian saya tertegur dengan Kasih dan Pengorbanan dari Pribadi Tuhan kita yang luar biasa. Masih ingat dengan kisah Yudas Iskariot ? Salah satu murid Tuhan Yesus yang mengkhianati Tuhan dengan 30 keping perak hanya untuk kepentingannya sendiri . Yesus tahu akan hal itu bahkan sebelum Yudas melakukannya , tapi apa yang dilakukan Yesus ? Dia tetap baik kepada Yudas dan sama sekali tidak membencinya.

Loh kok bisa?????

Itu karena fokus Yesus berbeda dengan kita . Fokus Yesus adalah pada kekekalan , bukan pada peristiwa yang terlihat saat itu. Bahkan pada saat Yesus ditangkap , Yudas masih memberikan ciuman pada Yesus (Lukas 22-47-48), namun apakah Yesus marah ? tentu tidak. Dapat kita baca bahwa emosi-Nya tetap stabil. Padahal Yesus sangat berhak untuk marah atau setidaknya memukul Yudas saat itu. Tapi pengendalian diri Yesus sungguh sangat luar biasa, bahkan dia tetap berdoa kepada Allah agar mengampuni mereka yang menyalibkanNya (Lukas 23:34).

Kisah ini membuktikan bahwa Yesus dalam rupa kemanusiaan_nya juga pernah disakiti, dikhianati oleh orang terdekatNya. Dia tidak hanya asal mengajar tentang pentingnya pengampunan melalui perkataan tetapi juga memberikan teladan melalui pengorbananNya diatas kayu salib untuk mengampuni dosa manusia!

Dari kisah ini juga kita belajar bahwa semakin dekat relasi dengan seseorang maka semakin besar pula kesempatan kita untuk saling melukai. Dan dengan kesadaran inilah saya melatih diri agar hanya mengandalkan Tuhan sebagai satu-satunya sumber kepuasan, kebahagiaan dan pertolongan saya. Bukan bergantung pada manusia, karena ya tadi manusia sedekat apapun relasi kita , semuanya berkesempatan untuk melukai dan mengecewakan.

Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu. Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.
(Matius 5: 39-45)


Ketujuh ayat di atas memang mudah untuk hanya dibaca, namun melakukannya? Duh… rasanya harga diri ini jadi tercabik-cabik, kan? Bukannya ingin kembali menjalin relasi yang telah berubah, kita justru memilih menghindar dengan alasan “masih memulihkan hati”. Hmm… healing takes time, sih. Tapi mungkin luka yang sedang “dipelihara” ini membuat kita menyadari “the unknown me” yang selama ini tidak kita kenali. Ternyata kita adalah manusia yang rapuh dan tidak berdaya untuk memulihkan luka ini sendirian, sehingga untuk mengampuni orang lain pun tidak sanggup. Meski demikian, Yesus menguatkan kita: ketika kita mengasihi dan mengampuni seseorang melebihi dari yang bisa dilakukan oleh yang bukan-orang-percaya, sebenarnya kita sedang menghadirkan citra Bapa bagi orang lain—khususnya yang telah melukai kita.

Lalu bagaimana agar kita bisa mengampuni musuh dan berdamai dengan mereka, seperti yang diperintahkan dan dilakukan Yesus?

Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.
(Matius 5:46-48)


Menjadi serupa Kristus berarti memiliki prinsip hidup, cara hidup, dan pengambilan keputusan seperti Kristus. Yah, itulah panggilan hidup bagi setiap kita yang sudah mengakui Yesus sebagai Juruselamat secara pribadi. Artinya, saat kita berani memaafkan orang-orang yang selama ini membenci maupun melukai kita, sebenarnya kita juga sedang mengerjakan panggilan kita dan bertumbuh dewasa menjadi pribadi yang berkarakter seperti Kristus. Walaupun prosesnya membutuhkan waktu yang tidak sebentar (bahkan bergalon-galon air mata), Roh Kudus juga menolong kita untuk memiliki kehidupan yang lebih sehat secara jiwa dan emosi.

Sebuah pengampunan hanya bisa diberikan ketika kita benar-benar mengenal identitas kita sebenarnya di hadapan Allah. Yaaa, kita adalah anak-anak Allah yang diterima-Nya dengan penuh anugerah melalui penebusan Kristus, dan dibebaskan dari penghakiman yang seharusnya kita terima. Kita juga adalah umat pilihan yang sudah dipersiapkan juga untuk suatu pekerjaan baik oleh Allah, dan kita tidak bisa dipisahkan dari kasih Allah. Sebagai orang percaya, kita juga dijadikan-Nya warga kerajaan Allah! Karena itu, kita harus menerima kebenaran ini sebagai suatu yang membebaskan dan mengingatkan kita untuk tidak menempatkan diri pada posisi yang “lebih benar”, “lebih baik”, ataupun “lebih berhak marah kepada mereka yang menyakiti” kita. Ini artinya kita juga harus mengikis ego diri sendiri; toh Bapa telah mengampuni kita—bahkan ketika kita masih berdosa!

Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya. Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.
(Lukas 6:47-49)


Salah satu buah dari pertobatan adalah pemberian pengampunan kepada orang lain. Jika demikian, pertanyaannya adalah… haruskah kita mengampuni semua orang—literally? Hmm… tentu kita memerlukan hikmat agar tidak salah dalam menyikapi hal ini. Walaupun rasanya pedih, kita harus mengimani dan mengamini bahwa kita tidak sendirian: ada Allah yang juga merasakan kepedihan itu! Dia juga memahami betapa sulitnya untuk tetap mengasihi orang-orang yang sudah melukai kita. Karena itu, kita perlu jujur kepada Allah tentang hal ini. Kerapuhan kita yang disebabkan oleh dosa membuat kita tidak berdaya untuk memberikan pengampunan dengan tulus kepada orang lain. Kiranya melalui keterbukaan dan penyerahan hati yang hancur ini, kita dimampukan-Nya untuk berkata, “Let my life reflect Your heart”, karena kita juga dipanggil untuk memancarkan hati Allah kepada orang-orang yang bahkan telah melukai kita sebagai sebuah bentuk ibadah yang sejati.

Semoga saya bisa menghidupi dan benar-benar mengampuni ......




Menata Hati


Menata Hati Membuat Anda Tenang (2) | Ruang MuslimahBelum bisa menerima, Belum bisa menghadapi. Pas buka mata selalu teringat terngiang dan terputar sempurna di kepala dari awal sampai akhir.

Sepertinya hatiku yang tak cukup melar untuk belajar menerima, menghadapi dan menjalani setiap proses yang ada saat ini.

Tapi kalau hati masih belum bisa menerima atau memfilter sesuatu , jadi fungsinya apa ?

Tetiba jadi kepikiran, apa iya salah satu fungsi hati adalah itu ? Kayaknya sih enggak juga.

Lalu saya mencoba membiarkan hati melihat dan merasa dalam kondisi seperti itu, dan aku menyebutnya sebagai kegelapan.

Aku membiarkan dia memilih, memilih untuk terus dalam gelap atau mencari terang atau mencari tenang atau berdamai dengan semua itu.

Lalu kalau ternyata hatiku betah untuk tetap berada dalam gelap, yaudah aku biarin aja.

Aku percaya bahwa hati itu cerdas, hati itu ingin belajar dan mengajar kita.

Karena sebenarnya hati itu ga takut sama gelap, tapi aku yang takut sama gelap.

Hati itu ga takut bergaul dan berdamai dengan ketidaksempurnaan, tapi aku yang takut dengan ketidaksempurnaan.

Hati yang cerdas mau mencium luka dan mengampuni.

Hati yang cerdas mau meminum lukanya berlimpah-limpah. Menyicip darahnya sendiri. Membalutnya teratur.

Hati yang cerdas tidak perlu buru-buru menjadi sembuh. Karena ia menghargai proses.

Ah, aku harus belajar banyak dari hati ku nih.

Semoga aku bisa , dan kalian semua bisa .



#dari aku yang sedang belajar untuk menata hati

Dari aku yang sedang mendung ---

Akhir-akhir ini saya banyak merenungkan tentang pilihan-pilihan hidup.
Tentang bagaimana aku memilih untuk mengingat kepada seseorang yang sama di ingatan yang paling pertama ketika aku bangun tidur. Adalah sebuah pilihan untuk membangun rumah bersama, bermain bersama, berjalan berdua bersama, mau tinggal atau pergi.

Tuhan menciptakan manusia dengan freewill. Rasanya seperti Tuhan memberikan manusia untuk menikmati kemerdekaan sejati dalam memilih segala sesuatu dalam jalan hidup manusia tersebut. Kemerdekaan sejati untuk mencintai, memiliki, menyayangi maupun membenci.

Bagiku cinta adalah sebuah pilihan, tetapi jatuh kedalamnya bukanlah sebuah pilihan. Sebab jatuh cinta tidak bisa direncanakan. Cinta kadang tidak berujung, tetapi hendaklah ia dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati.

Mengapa begitu, karena apabila kita kerjakan dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati kalaupun cinta itu tidak berujung, tidak akan pernah ada rasa menyesal, ketika pun harus berpisah!
Gambar terkait
Segala sesuatu tidak ada yang kebetulan, segala seuatu bukannya tanpa tujuan. Tidak ada jatuh cinta tanpa tujuan, tidak ada kesedihan tanpa tujuan. Tidak ada bahagia tanpa tujuan. Kalaupun tidak memiliki bukan berarti tidak bahagia. Kalaupun berjarak bukan berarti tidak menikmati keindahan. Karena sesungguhnya bahagia itu muncul saat kita merasa kekurangan, dan menikmati keindahan muncul saat kita bisa menghargai sepi dan hening.

Dan untuk kamu, saya mencintaimu bukan karena suatu hari kita dapat membangun rumah tangga bersama (kalaupun dalam hal ini saya sangat ingin sekali). Saya mencintaimu karena saya sudah lebih dulu dicintai dan ketika aku membagi cinta yang ada padaku kepadamu itu hanyalah bonus.

Saya mencintaimu bukan tanpa ketakutan, sekalipun saya selalu bilang bahwa "saya tidak pernah takut menjalani ini denganmu". Tapi ah sudahlah, semua rasa ini tidak ada yang dapat mendefinisikannya.

Karena saya mencintaimu , dengan semua apa yang ada padamu. Lebihmu , kurangmu.

-Dari aku yang sedang mendung-

Mencari Kekasih

Hei,
Aku seorang gadis yang tengah asik bermain
Aku seorang gadis yang tengah asik merajut mimpi
Kemudian tanpa disadari waktu begitu cepat berlalu
Seakan aku kehilangan waktu,

Usia sudah menginjak seperempat abad
Kini waktunya mencari kekasih
Bukan lagi mencari jati diri

Aku mencari kekasih di antara awan-awan
Di tengah gerimis hujan
Bahkan di tengah langit malam

Lalu kemudian aku melihatnya
Dia ada diatas sana, aku mulai tersenyum bahagia
Merasa sudah tenang karena dia ada

Tapi kemudian aku lupa ,bahwa aku harus menjaganya
Bukan malah terlena karena keberadaannya ,lalu lupa untuk melayaninya
Hingga suatu hari aku melihat, bahwa dia sedang merekah
Bersama dengan bidadari lain di atas sana

Hati ini patah, merana dan terluka
Tak bisa kusalahkan juga dia
Karena tak sepenuhnya ini salah dia
Aku yang lupa, aku yang terlena


Mungkin memang tanpa getaran


Hasil gambar untuk siluet memeluk dari belakang

Menjalani hubungan tanpa getaran itu seperti?

Ketika kamu ditanya lalu hanya diam saja. Kamu memandang kesisi lain padahal jelas saya ada disampingmu. Tapi meskipun kamu hanya diam, saya tetap suka.

Sesungguhnya saya masih tidak mengerti jalan pikiranmu. Karena bagi saya menjalan segala sesuatu tanpa "getaran" itu sulit, apalagi menjalani hubungan yang dimana adalah dua orang sedang belajar untuk menjadi satu.

Dan ketidakmengertian ini saya takutkan akan membuat saya menjadi orang yang paling penakut. Saya tidak bisa maksimal mencintai kamu kalau saya masih tidak bisa mengerti jalan pikiranmu.
Dan kalau mencintaimu membuatku menjadi takut, jelas saya tidak mau.

Karena ketika hanya saya saja yang memiliki getaran itu dan kamu tidak. Bukankah itu bisa menjadi sebuah alasan kelak untuk sebuah perpisahan?

Saya tidak menginginkan hal itu terjadi. Tidak lagi untuk perpisahan, saya mohon. 

Saya berusaha untuk menjelaskan apa yang saya rasakan, saya inginkan dan apa yang saya bayangkan dalam hubungan ini. Tapi kamu masih diam dan memalingkan wajah ke sisi lain lagi.

Saya memelukmu dari belakang, berharap kamu bisa merasakan getaran dari dalam dada ini. Lalu kamu memandang kebelakang, dan kini kita saling melihat. Saya menatap matamu dalam, mencari sendiri getaran itu disana. Siapa tahu selama ini kamu menyembunyikan getaran itu disana , hanya saja terlalu malu untuk menunjukkannya.


---------------------------

Belum ketemu atau mungkin memang tidak ketemu.

Tidak mudah

Tidak mudah memang melupakanmu. 
Butuh proses yang sepertinya harus agak panjang untuk melupakanmu.

Namun, apalah artinya aku bertahan dalam perasaan yang kamu sendiri pun sudah tak lagi perjuangkan.
Apalah artinya bertahan dalam perasaan yang pada akhirnya hanya membuat rasa tak karuan dalam hati.
Apalah artinya menjaga harapan yang kutahu ujungnya hanya melahirkan sesak dalam dada kemudian.

Tidak mudah memang melupakanmu.
Seseorang yang pernah kukenal dengan perasaan terdalam.
Ah sepertinya aku terjatuh terlalu dalam kali ini.
Orang yang dulu begitu baik, namun nyatanya melukai kemudian.
Dan dengan seenaknya berkata "Yang aku ingin hanya melupakanmu"
Dalam hati aku berkata brengsek  bagaimana mungkin aku tiba-tiba menghilangkanmu dari ingatan?

Tapi sekali lagi, segala hal ternyata sudah berakhir. Kau sudah selayaknya untuk ditinggalkan. Meski membuat luka yang membekas di hati. Hanya saja, barangkali luka ini adalah bagian dari hidupku yang memang harus dijalani.

Aku hanya ingin pindah. Tapi aku tidak bisa secepat yang kau katakan itu brengsek.
Aku pasti akan merangkak sedikit demi sedikit. Dan  melangkahkan kaki dengan langkah kecil. 

Jangan datang lagi! Sekalipun hanya lewat mimpi, aku mohon padamu jangan datang lagi!
Setidaknya sampai semua perasaan ini benar-benar biasa saja kembali.
Kamu sudah memutuskan hal yang telah kujaga dengan sungguh. 



























Ia adalah

Batas itu bukan jarak.

Ia hanya seperti kata cukup yang mengisyaratkan sesuatu hanya sampai di sini. 

Batas itu kemudian seperti mengingatkan bahwa, ada masa kita pernah bersama.

Mengingatkan kita bahwa kita pernah mencinta tanpa "batas" itu.

Tapi kini semua tak lagi sama.

Kita sesekali masih saling melihat

Sesekali kita masih saling merindu.

Tapi kita tak berani untuk saling bersentuhan.

Kita masih saling menginginkan, tapi tak ada lagi usaha yang sama seperti waktu itu. 

Kita  masih berdiri di tempat yang sama, tetapi sekedar melambai dari kejauhan pun tidak. 

Kita masih melewati tempat yang sama, tapi hanya kenangan yang tersimpan disana.

Batas mungkin akhirnya bisa dikatakan sebagai pemisah. 

Yang menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pelerai. 

Yang kemudian membuat kita belajar untuk merenung dan mengambil waktu. 

Tapi ketahui dan sadarilah bahwa batas bukanlah jarak apalagi sampai engkau jadikan sebagai pelarian.

Batas hanyalah sebagian dari kisah hidup kita yang mengatakan cukup, hanya sampai di sini, tidak bisa lagi, tidak sanggup lagi, tidak mampu. 

Dan sederet kata "Tidak" lainnya.

Ia adalah "antara" yang membuat kau dan aku akan sama-sama melihat pada hitam mata kita, lalu kita akan berucap dalam hati " sekian dan terima-kasih"





Hasil gambar untuk jarak antara kita